Mengenai Saya

Foto Saya
Agus Taufik, staf IT dan guru di Pondok Pesantren Daar El-Qolam. Lihat Agus Taufik di Facebook.

Streaming Fajri FM

Agus Taufik's Video Collection

Jangan mencoba menjadi orang yang sukses, Lebih baik mencoba jadi orang berguna

Di Philadelphia, Amerika Serikat, ada seorang resepsionis hotel tua yangsenantiasa memberikan pelayanan yang terbaik untuk setiap tamu-tamuhotel tempatia bekerja. Selama bertahun-tahun dia bekerja, tidak pernah adakenaikan jabatanatau kenaikan gaji yang signifikan. Tetapi itu semua tidak menghentikannyamemberikan pelayanan terbaik. Hingga suatu ketika, dia mendapatkan sebuahundangan dan tiket untuk pergi ke New York oleh seseorang yang mengakumengenalnya.Setibanya di New York, dia dijemput oleh seorang pria tua. Mereka kemudianpergi ke sebuah perempatan besar. Di sana pria tua itu menunjuk sebuahbangunanmewah dihadapannya sambil berkata "Itu adalah hotel yang saya bangunkhususuntuk anda. Saya ingin anda menjadi manajer hotel saya itu." Siresepsionisterkejut kemudian bertanya, "Siapa Anda? Kenapa Anda lakukan ini untuksaya?"Pria tua itu menjawab, "Dua tahun yang lalu, saya dan istri saya datang kehotel tempat anda bekerja untuk menginap. Tetapi ternyata hotel anda sudahpenuh, sama seperti hotel-hotel lainnya di sana. Namun kemudian andamemberikansaya kamar yang seharusnya menjadi jatah anda. Anda memilih untuktidur di sofadaripada membiarkan saya tidak memiliki tempat menginap. Saat itu sayaberjanjipada diri saya sendiri, Suatu saat nanti, saya akan membangun sebuahhotel untukanda."Pria itu adalah William Astor, hotel yang dibangunnya adalahWaldorf-Astoriahotel yang pertama. Resepsionis itu bernama George C. Bold, yang akhirnyamenjadi manajer pertama hotel tersebut.Saya sudah menemukan beragam kisah tentang seseorang yang memperolehkeberuntungan dan juga rezeki "nomplok". Ada seorang tukang becak yangmampupergi haji. Ada office boy yang kemudian menjadi vice president sebuahbankbertaraf internasional. Ada loper koran yang memenangkan hadiah Rp 500jutaketika mengikuti suatu kuis di salah satu televisi swasta. Semuapenumpang AdamAir selamat, padahal pesawat telah kehilangan sistem navigasi. Danbanyak ceritakeberuntungan lainnya.Semua kejadian itu, bukanlah kebetulan. Ternyata, ada mekanisme atauhukum alamyang menjamin bahwa kebaikan yang kita lakukan pasti akan berbuahkeberuntungan.Hukum alam itu adalah hukum kekekalan energi. Hukum ini menyatakanbahwa energidi dunia ini tetap dan tidak akan pernah hilang, yang ada hanyalah berubahbentuk.Setiap hari kita mengeluarkan energi. Ketika kita bekerja, menjamutetangga,bermain dengan anak-anak dan sebagainya, semua mengeluarkan energi.Energi itutidak hilang. Energi itu akan menghasilkan energi dalam bentuk lainyang dapatkita rasakan. Gerakan tangan menjadi sebuah tulisan. Berolahragamenghasilkanbadan sehat. Menuntut ilmu menghasilkan luasnya wawasan. Senyumanmenjadi rasacinta. Kesungguhan dan keseriusan menghasilkan prestasi. Kunjungan kerumahsahabat atau saudara menambah keakraban dan sebagainya.Karena energi tak akan hilang dan hanya berubah bentuk maka setiapkebaikanyang kita lakukan tidak akan pernah sia-sia. Energi positif (kebaikan)yang kitalakukan pasti akan berbuah sesuatu yang positif beberapa saat setelah kitamelakukan atau berbuah di kemudian hari.Jadi, bila kehidupan anda ingin dipenuhi keberuntungan- keberuntungan dankebahagian maka lakukanlah banyak energi positif berupa kebaikansekarang juga.Saya yakin kelak anda akan memanen buah dari benih kebaikan yang andalakukansaat ini. Bergegaslah sekarang juga menebar energi positif. Suatu saatnanti,pasti banyak keberuntungan hidup menjemput anda.

Ternyata... Hidup Ini Sederhana...

Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik .
---- 000 -----
Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya. Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.
---- 000 -----
Seorang anak berkata kepada ibunya: "Ibu hari ini sangat cantik." Ibu menjawab: "Mengapa?" Anak menjawab: "Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah." Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah .
---- 000 -----
Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah. Temannya berkata: "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur." Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku." Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja .
---- 000 -----
Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: "Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?" Ada yang menjawab: "Cari mulai dari bagian tengah." Ada pula yang menjawab: "Cari di rerumputan yang cekung ke dalam." Dan ada yang menjawab: "Cari di rumput yang paling tinggi." Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: "Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana." *Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.
---- 000 -----
Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: "Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku." Katak di pinggir jalan menjawab: "Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah." Beberapa hari kemudian katak "sawah" menjenguk katak "pinggir jalan" dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat. Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.
---- 000 -----
Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira. Ada yang bertanya: "Mengapa engkau begitu santai?" Dia menjawab sambil tertawa: "Karena barang bawaan saya sedikit." Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja.

* You are what you think about. Beware of your mind.

Sabtu, 11 Oktober 2008

Kejujuran yang Menyelamatkan Jiwa

Disuatu desa terpencil dipinggiran kota , tinggalah seorang anak laki-laki bersama 6 saudaranya, kehidupan keluarga ini terlihat sangatlah sederhana, orang tuanya hanya seorang buruh tani, kakak dan adiknya semua masih bersekolah sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang hanya mengurusi keluarga. Untuk membantu keuangan keluarganya setiap hari selepas pulang sekolah , ia pergi kepasar untuk berjualan asongan.

Pada suatu hari saat anak ini sedang menjajakan dagangannya, tiba-tiba ia melihat sebuah bungkusan kertas koran yang cukup besar , terjatuh dipinggir jalan, lalu diambilnya bungkusan tersebut, kemudian dibukanya bungkusan itu, namun betapa kaget dan terkejutnya ia, ternyata isi bungkusan tersebut berisi uang dalam nominal besar.

Tampak diraut wajahnya rasa iba dan bukan kegembiraan, ia tampak kebinggungan, karena ia yakin uang ini pasti ada yang memilikinya , pada saat itu juga anak ini langsung berinisiatif untuk mencari sipemilik bungkusan tersebut, sambil mencari-cari sipemiliknya, tiba-tiba seorang ibu dengan ditemani seorang satpam datang dengan berlinang air mata menghampiri anak kecil itu , lalu ibu ini berkata “dek, bungkusan itu milik ibu, isi bungkusan itu adalah uang”.

Uang untuk biaya rumah sakit,karena anak ibu baru saja mengalami kecelakan korban tabrak lari, saat ini anak ibu dalam keadaan kritis dan harus cepat dioperasi karena terjadi pendarahan otak, kalau tidak cepat ditangani ibu khawatir jiwa anak ibu tidak akan tertolong.

Pagi ini ibu baru saja menjual semua harta yang ibu miliki untuk biaya rumah sakit, Ibu sangat membutuhkan uang ini untuk menyelamatkan jiwa anak ibu.

Lalu anak kecil tersebut berkata,” benar bu, aku sedang mencari pemilik bungkusan ini, karena aku yakin pemilik bungkusan ini sangat membutuhkan. “Ini bu !, milik ibu”. setelah itu anak kecil tersebut langsung berlari pulang , sesampai dirumah ia ceritakan semua kejadian yang baru saja dialami kepada Ibu nya.

Lalu ibunya berkata , “ Benar anak ku ! “, kamu tidak boleh mengambil barang milik orang lain, walau pun itu dijalanan , karena barang itu bukan milik kita. Ibu sangat bangga pada mu nak, walau pun kita miskin , namun kamu KAYA dengan KEBAIKAN dan KEJUJURAN.

Untuk apa kita memiliki kekayaan yang melimpah, sementara kita harus mengorbankan nyawa orang lain . “Kamu sungguh anak yang baik nak” , ibu sangat bersyukur mempunyai anak seperti mu.

Hari ini ibu percaya, kamu sudah menyelamatkan satu jiwa melalui kebaikan dan kejujuran mu, kamu harus jaga terus kejujuranmu , karena kejujuran dapat menyelamatkan banyak orang dan kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana . “Apa yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil”.

(“Matamu adalah pelita tubuhmu, Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi gelap. Jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya.” )

Thomas

Minggu, 21 September 2008

Menyalahkan Orang Lain

Saya melihat seorang anak kecil sedang menangis karena kakinya tersandung batu, dan anak tersebut berlari kearah orang tuanya sambil berkata "mama aku jatuh tersandung batu …" dan orang tunya berkata " Diam sayang batunya nakal nanti batunya mama marahi…" kenapa harus menyalahi batu…
Suatu ketika di lingkungan kantor "Kenapa kamu tak dapat mencapai target penjualan…", Tanya seorang manager ke pada supervisornya "Iya saya mempunyai tem yang kurang solid", kenapa harus menyalahkan teamnya…

Ketika suatu saat saya mempunyai janji dengan kerabat untuk bertemu di satu tempat pada pukul 9.00, ternyata kerabat saya datang pada pukul 10.30, dan saya bertanya "kenapa telat….", " tadi supir taksinya jalanya pelan, dan jalanan macet" saudara saya berkata, kenapa menyalahkan supir taksi dan jalanan macet….

Begitu mudahnya kita melempar kesalahan kepada orang lain, disaat kita terdesak.. dari beberapa kasus yang saya tulis diatas. Dari kasus pertama saat kecil kita dibimbing untuk menyalahkan batu ketika kita tersandung dan jatuh… saat target penjualan tidak teracapai seorang supervisor dengan mudah melemparkan kesalahan kepada teamnya, kenapa tidak mengaku bahwa dia salah… karena mungkin salah strategy, atau malah dia tidak melakukan apa-apa hanya menyerahkan ke teamnya… dan saat kerabat saya datang terlambat dia menyalahkan supir taksi… apakah benar… kenapa kerabat saya tidak berjalan lebih awal atau memilih jalan alternative untuk tidak terlambat.

Menyalahkan orang lain sudah dikenal dengan sangat baik oleh umat manusia, dan kemasannya bisa nampak begitu indah sehingga pelakunya sendiri kadang tidak sadar telah melakukannya. Ketika dihadapkan pada sebuah masalah, maka solusi termudah yang bisa ditemukan biasanya adalah menimpakan semua tanggung jawab pada orang lain. Pada sebagian orang, kebiasaan ini sudah menjadi sebuah refleks.

Fenomena sosial ini sangat menyedihkan sedang terjadi pada masyarakat kita dimana masing-masing ingin mencari selamat, dan melemparkan kesalahan kepada orang lain dan tidak mau bertanggung jawab atas kesalahan yang dibuatnya. coba deh kita periksa diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain,kita tidak akan dihormati jika kita sentiasa bersikap selalu menyalahkan orang lain/menimpakan permasalah ke orang lain.

Mungkin kah, sikap melemparkan kesalahan tersebut berawal dari saat kita kecil di mana kita terbiasa menyalahkan dan melemparkan masalah kepada orang lain agar kita aman. Dengan melemparkan kesalahan kepada orang lain tidak kah kita merasa salah dan tidak nyaman. Dan saat kita melemparkan kesalahan orang lain kita sebenarnya sedang membiasakan diri untuk berbohong kepada diri sendiri.

Dengan mencoba untuk melemparkan kesalahan kita kepada orang lain adalah suatu candu dan akan menghambat perkembangan jiwa kita… jika kita berhasil melemparkan suatu masalah kepada orang lain kita dan kita merasa aman dan berhasil, maka kita akan berusaha mengulang melemparkan setiap kesalahan kita kepada orang lain

Mengapa kita tidak bersikap jujur bahwa kesalahan yang kita buat tersebut adalah salah kita dan kita bertanggung jawab atas resiko yang ada. Bagaimana perasaan anda jika orang lain melemparkan suatu masalah kepada kita…. Marah kesal dan kecewa bukan…. Jadi kenapa kita harus melempar kesalahan kepada orang lain.

Memang wajar jika manusia tidak ingin dipersalahkan. Tidak ada orang yang merasa nyaman mengakui kesalahan atau kekurangan dirinya. Akan tetapi, justru sikap inilah yang menjadi batas yang tegas antara manusia yang sukses (atau bakal sukses) dengan mereka yang sudah takdirnya menjadi buih di lautan luas.

Dengan menerima kesalahan, kita seharusnya senang karena kita mendapat pelajaran berharga dan tidak mengulangi kesalahan tersebut. Dan kita punn sangat marah jika kita terkena masalah dari lemparan orang lain. kita harus melatih jujur dan menumbuhkan jiwa sportif kepada diri kita sendiri. dengan mengakui kesalahan kita maka orang lain dan lingkungan akan sangat menghargai diri kita. Tidak percaya coba buktikan bersifat sportif, dan anda akan mendapat tanggapan yang baik… temukan jawabanya, dan jika saya salah anda dapat menghungi saya di erwinarianto@ gmail.com.

Jika Anda menghadapi masalah, merasa sedih, khawatir, marah, kecewa, atau kesal, maka cobalah berbincang-bincang dengan dirimu sendiri. Pertanyakanlah segala hal, dan bersikap jujurlah pada diri sendiri. Sebenarnya, masalah terbesar dalam hidup manusia bukanlah musuh yang kejam, melainkan ego pribadi. Karena ego, kita terbiasa menyalahkan orang lain dan larut dalam ratapan. Padahal, yang dibutuhkan adalah solusi, bukan melankoli.

Begitu indah jika kita tidak saling menyalahkan dan bersikap jujur dan sportif kepada orang lain, seperti kita ingin diperlakukan oleh orang lain. Dengan ini jika berkenan saya ingin mengajak sahabat-sahabatku untuk tidak melemparkan kesalahan kepada orang lain, dan berjiwa sportif dan mengakui kesalahan kita jika kita salah, seperti seorang ksatria, dan wujud iman kita. serta berani mengakui kesalahan adalah sebuah langkah awal untuk menuju kesuksesan kita. dan dengan menyalahkan orang lain kita melakukan sebuah penarikan dalam bank emosi kita dengan orang lain.

"Berbahagialah orang yang dapat menyalahkan dirinya sendiri sebelum menyalahkan orang lain"

" menjadi jujur seperti seorang ksatria yang sportif dan berwibawa, atau mencoba tidak jujur (bohong) seperti seorang pencuri yang terhina dan tidak berharga"

" Walaupun menanam kejujuran terasa pahit, tetapi kejujuran akan menghasilkan buah yang manis. Jadi mari kita jujur, walau kejujuran itu pahit"

Erwin Arianto

Sabtu, 21 Juni 2008

Cerita Petani

Alkisah jaman dahulu kala ada seorang petani miskin yang hidup dengan seorang putera nya. Mereka hanya memiliki seekor kuda kurus yang sehari-hari membantu mereka menggarap ladang mereka yang tidak seberapa. Pada suatu hari, kuda pak tani satu-satu nya tersebut menghilang, lari begitu saja dari kandang menuju hutan.
Orang-orang di kampung yang mendengar berita itu berkata: "Wahai Pak tani, sungguh malang nasibmu!".Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"
Keesokan hari nya, ternyata kuda pak Tani kembali ke kandangnya, dengan membawa 100 kuda liar dari hutan. Segera ladang pak Tani yang tidak seberapa luas dipenuhi oleh 100 ekor kuda jantan yang gagah perkasa. Orang-orang dari kampung berbondong datang dan segera mengerumuni "koleksi" kuda-kuda yang berharga mahal tersebut dengan kagum. Pedagang-pedagang kuda segera menawar kuda-kuda tersebut dengan harga tinggi, untuk dijinakkan dan dijual. Pak Tani pun menerima uang dalam jumlah banyak, dan hanya menyisakan 1 kuda liar untuk berkebun membantu kuda tua nya.
Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu berkata: "Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!".Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"
Keesokan hari nya, anak pak Tani pun dengan penuh semangat berusaha menjinakan kuda baru nya. Namun, ternyata kuda tersebut terlalu kuat, sehingga pemuda itu jatuh dan patah kaki nya.
Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu berkata: "Wahai Pak tani, sungguh malang nasibmu!".Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"
Pemuda itupun terbaring dengan kaki terbalut untuk menyembuhkan patah kakinya. Perlu waktu lama hingga tulangnya yang patah akan baik kembali. Keesokan harinya, datanglah Panglima Perang Raja ke desa itu. Dan memerintahkan seluruh pemuda untuk bergabung menjadi pasukan raja untuk bertempur melawan musuh di tempat yang jauh. Seluruh pemuda pun wajib bergabung, kecuali yang sakit dan cacat. Anak pak Tani pun tidak harus berperang karena dia cacat.
Orang-orang di kampung berurai air mata melepas putra-putra nya bertempur, dan berkata: "Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!".Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"
Kisah di atas, mengungkapkan suatu sikap yang sering disebut: non-judgement. Sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan untuk memahami rangkaian kejadian yang diskenariokan Sang Maha Sutradara. Apa-apa yang kita sebut hari ini sebagai "kesialan", barangkali di masa depan baru ketahuan adalah jalan menuju "keberuntungan" . Maka orang-orang seperti Pak Tani di atas, berhenti untuk "menghakimi" kejadian dengan label-label "beruntung", "sial", dan sebagainya.
Karena, siapalah kita ini menghakimi kejadian yang kita sunguh tidak tahu bagaimana hasil akhirnya nanti. Seorang karyawan yang dipecat perusahaan nya, bisa jadi bukan suatu "kesialan", manakala ternyata status job-less nya telah memecut dan membuka jalan bagi diri nya untuk menjadi boss besar di perusahaan lain.
Maka berhentilah menghakimi apa –apa yang terjadi hari ini, kejadian –kejadian PHK , Paket Hengkang , Mutasi tugas dan apapun namanya . . . .yang selama ini kita sebut dengan "kesialan" , "musibah " dll , karena .. sungguh kita tidak tahu apa yang terjadi kemudian dibalik peristiwa itu (di).
"Hadapi badai kehidupan sebesar apapun. Tuhan takkan lupa akan kemampuan kita. Kapal hebat diciptakan bukan untuk dilabuhkan di dermaga saja."
Sumber milis: Cetivasi

Sabtu, 07 Juni 2008

Nasi Sudah Menjadi Bubur

Saat keterlanjuran sudah berlalu, kita sering mengatakan “Nasi sudah menjadi bubur”. Betulkah ungkapan ini? Atau sekedar mencari pembenaran untuk tidak memperbaiki yang sudah ada? Insya Allah setelah membaca cerita berikut, kita akan memiliki pandangan berbeda terhadap suatu keterlanjuran.
Seorang mahasiswa kuliahnya tidak serius. Kadang masuk kuliah kadang tidak, tugas terbengkalai, SKS yang harus dikejar masih banyak, dan jarang sekali belajar. Begitu ditanya ternyata dia merasa terjebak masuk ke jurusan yang dipilihnya karena dia hanya ikut-ikutan saja. Teman-temannya masuk jurusan tersebut, dia pun ikut.
“Mengapa kamu tidak pindah saja?” tanya temannya, Budi.
“Ah, biarlah, nasi sudah menjadi bubur” jawabnya, tidak peduli.
“Apakah kamu akan tetap seperti ini?”
“Mau gimana lagi, saya bilang nasi sudah jadi bubur, tidak bisa diperbaiki lagi.” jawabnya berargumen.
“Kalau kamu pindah kejurusan yang kamu sukai, kan kamu akan lebih enjoy.” kata temannya.
“Saya ini sudah tua, masa harus kuliah dari awal lagi. Saya terlambat menyadari kalau saya salah masuk jurusan.” jelasnya sambil merebahkan diri di kasur dan mengambil remote control TV-nya.
“Memang tidak ada yang bisa kamu lakukan lagi?” selidik temannya.
“Tidak, saya sudah katakan berulang-ulang nasi sudah jadi bubur.”
Temannya pun diam sejenak, dia bingung melihat temannya yang sudah tidak semangat lagi. Kemudian dia teringat pada temannya yang memiliki nasib yang sama, salah memilih jurusan. Dia pun pulang ke rumahnya kemudian menelpon temannya tersebut.
“Jaka, perasaan kamu pernah cerita sama saya, kalau kamu salah memilih jurusan?” tanya Budi kepada Jaka.
“Memang saya salah memilih jurusan, memangnya kenapa?” jawab Jaka.
“Yang saya heran, kenapa kamu tetap semangat kuliah, sedangkan teman saya malah malas dan tidak serius kuliahnya.”
“Yah nggak tahu yah, saya juga dulu sempat seperti itu. Tapi sekarang sudah tidak lagi.” jelas Jaka.
“Apa sich resepnya?”
“Pertama saya merelakan diri masuk jurusan ini. Mungkin ini yang terbaik menurut Allah. Jadi saya terima saja.”
“Terus?” kata Budi bersemangat
“Yang kedua, saya mencari cara menggabungkan ilmu yang saya miliki dijurusan ini, dengan hobi saya. Ternyata saya menjadi enjoy saja. Memang, saya terlanjur memilih jurusan ini, kata orang, nasi sudah jadi bubur. Tetapi kalau saya, nasi sudah menjadi bubur ayam spesial yang enak dan lebih mahal harganya ketimbang nasi.”
“Oh gitu….”
“Yah, kalau kita menyesali tidak ada manfaatnya. Kalau kita berusaha mengubah bubur jadi nasi, itu tidak mungkin. Satu-satunya cara ialah membuat bubur tersebut menjadi lebih nikmat, saya tambahkan ayam, ampela, telor, dan bumbu. Rasanya enak dan lebih mahal” jelas Jaka sambil tersenyum lebar.

Rabu, 04 Juni 2008

100 Tahun kebangkitan Nasional 1908-2008

Bangkit itu SUSAH
Susah melihat orang susah
Senang melihat orang senang

Bangkit itu TAKUT
Takut Korupsi
Takut makan yang bukan haknya

Bangkit itu MENCURI
Mencuri perhatian dunia dengan prestasi

Bangkit itu MARAH
Marah bila martabat bangsa dilecehkan

Bangkit itu MALU
Malu jadi benalu
Malu karena minta melulu

Bangkit itu TIDAK ADA
Tidak ada kata menyerah
Tidak ada kata putus asa

Bangkit itu AKU
Aku untuk Indonesiaku

Deddy Mizwar

Jumat, 09 Mei 2008

Catatan Harian Seorang Pramugari

Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.

Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.

Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking , penumpang sangat penuh pada hari ini.

Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.

Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.

Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.

Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat tiga di Peking . anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.

Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga.

Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian.

Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.

(Sumber Dajiyuan)

Minggu, 30 Maret 2008

Doa Sang Jendral

Pada masa perang dunia kedua, tepatnya bulan Mei Tahun 1952, seorang jenderal kenamaan, Douglas Mac Arthur, menullis sebuah puisi untuk putra tercintanya yang saat itu baru berusia 14 tahun. Puisi tersebut mencerminkan harapan seorang ayah kepada anaknya. Ia memberi sang anak puisi indah yang berjudul "Doa untuk Putraku" Inilah isi puisi tersebut:

Doa untuk Putraku
Tuhanku...

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya. Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.

Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan.

Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.

Seorang Putera yang sadar bahwa mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.



Tuhanku...

Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak. Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.

Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar
untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi, sanggup memimpin dirinya sendiri, sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.



Berikanlah hamba seorang putra yang mengerti makna tawa ceria tanpa melupakan makna tangis duka.

Putera yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah

namun tak pernah melupakan masa lampau.

Dan, setelah semua menjadi miliknya...

Berikan dia cukup rasa humor sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya.



Tuhanku...

Berilah ia kerendahan hati...

Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki...

Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna...

Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud, hamba, ayahnya, dengan berani berkata "hidupku tidaklah sia-sia"




Pembaca yang budiman,
Puisi yang ditulis oleh Jenderal Douglas MacArthur tersebut merupakan sebuah puisi yang luar biasa. Puisi itu adalah sebuah cermin seorang ayah yang mengharapkan anaknya kelak mampu menjadi manusia yang ber-Tuhan sekaligus mampu menjadi manusia yang tegar, tidak cengeng, tidak manja, dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.

Seperti contoh sepenggal puisi di atas yg berbunyi: "Janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan." Puisi ini menunjukkan bahwa sang jenderal sadar tidak ada jalan yang rata untuk kehidupan sukses yang berkualitas.

Seperti kata mutiara yang tidak bosan saya ucapkan: "Kalau Anda lunak pada diri sendiri, kehidupan akan keras terhadap Anda. Namun, kalau Anda keras pada diri sendiri, maka kehidupan akan lunak terhadap Anda."

Untuk itu, jangan kompromi atau lunak pada sikap kita yang destruktif, merusak, dan cenderung melemahkan. Maka, senantiasalah belajar bersikap tegas dan keras dalam membangun karakter yang konstruktif, membangun, demi menciptakan kehidupan sukses yang gemilang, hidup penuh kebahagiaan! !


Selamat berjuang!!!