<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-611511756457839120</id><updated>2012-01-12T17:46:35.096-08:00</updated><title type='text'>Agus Taufik Personal Website</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://agustaufik.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agustaufik.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Agus Taufik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02433125303915927724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_Y8R-_aBWstk/R1bE88FG73I/AAAAAAAAAAM/tMmLFweJa-Y/S220/DSCF7572.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-611511756457839120.post-1621054861963375820</id><published>2008-10-11T01:10:00.000-07:00</published><updated>2008-10-11T01:15:29.478-07:00</updated><title type='text'>Kejujuran yang Menyelamatkan Jiwa</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Disuatu desa terpencil dipinggiran kota , tinggalah seorang anak laki-laki bersama 6 saudaranya, kehidupan keluarga ini terlihat sangatlah sederhana, orang tuanya hanya seorang buruh tani, kakak dan adiknya semua masih bersekolah sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang hanya mengurusi keluarga. Untuk membantu keuangan keluarganya setiap hari selepas pulang sekolah , ia pergi kepasar untuk berjualan asongan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Pada suatu hari saat anak ini sedang menjajakan dagangannya, tiba-tiba ia melihat sebuah bungkusan kertas koran yang cukup besar , terjatuh dipinggir jalan, lalu diambilnya bungkusan tersebut, kemudian dibukanya bungkusan itu, namun betapa kaget dan terkejutnya ia, ternyata isi bungkusan tersebut berisi uang dalam nominal besar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Tampak diraut wajahnya rasa iba dan bukan kegembiraan, ia tampak kebinggungan, karena ia yakin uang ini pasti ada yang memilikinya , pada saat itu juga anak ini langsung berinisiatif untuk mencari sipemilik bungkusan tersebut, sambil mencari-cari sipemiliknya, tiba-tiba seorang ibu dengan ditemani seorang satpam datang dengan berlinang air mata menghampiri anak kecil itu , lalu ibu ini berkata “dek, bungkusan itu milik ibu, isi bungkusan itu adalah uang”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Uang untuk biaya rumah sakit,karena anak ibu baru saja mengalami kecelakan korban tabrak lari, saat ini anak ibu dalam keadaan kritis dan harus cepat dioperasi karena terjadi pendarahan otak, kalau tidak cepat ditangani ibu khawatir jiwa anak ibu tidak akan tertolong. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Pagi ini ibu baru saja menjual semua harta yang ibu miliki untuk biaya rumah sakit, Ibu sangat membutuhkan uang ini untuk menyelamatkan jiwa anak ibu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Lalu anak kecil tersebut berkata,” benar bu, aku sedang mencari pemilik bungkusan ini, karena aku yakin pemilik bungkusan ini sangat membutuhkan. “Ini bu !, milik ibu”. setelah itu anak kecil tersebut langsung berlari pulang , sesampai dirumah ia ceritakan semua kejadian yang baru saja dialami kepada Ibu nya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Lalu ibunya berkata , “ Benar anak ku ! “, kamu tidak boleh mengambil barang milik orang lain, walau pun itu dijalanan , karena barang itu bukan milik kita. Ibu sangat bangga pada mu nak, walau pun kita miskin , namun kamu &lt;strong&gt;KAYA&lt;/strong&gt; dengan &lt;strong&gt;KEBAIKAN &lt;/strong&gt;dan &lt;strong&gt;KEJUJURAN&lt;/strong&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Untuk apa kita memiliki kekayaan yang melimpah, sementara kita harus mengorbankan nyawa orang lain . “Kamu sungguh anak yang baik nak” , ibu sangat bersyukur mempunyai anak seperti mu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Hari ini ibu percaya, kamu sudah menyelamatkan satu jiwa melalui kebaikan dan kejujuran mu, kamu harus jaga terus kejujuranmu , karena kejujuran dapat menyelamatkan banyak orang dan kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana . “Apa yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil”. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=""&gt;(“Matamu adalah pelita tubuhmu, Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi gelap. Jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya.” )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;em&gt;Thomas&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/611511756457839120-1621054861963375820?l=agustaufik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agustaufik.blogspot.com/feeds/1621054861963375820/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=611511756457839120&amp;postID=1621054861963375820' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default/1621054861963375820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default/1621054861963375820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agustaufik.blogspot.com/2008/10/kejujuran-yang-menyelamatkan-jiwa.html' title='Kejujuran yang Menyelamatkan Jiwa'/><author><name>Agus Taufik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02433125303915927724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_Y8R-_aBWstk/R1bE88FG73I/AAAAAAAAAAM/tMmLFweJa-Y/S220/DSCF7572.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-611511756457839120.post-3791692429531458733</id><published>2008-09-21T06:13:00.000-07:00</published><updated>2008-09-21T06:14:52.144-07:00</updated><title type='text'>Menyalahkan Orang Lain</title><content type='html'>Saya melihat seorang anak kecil sedang menangis karena kakinya tersandung batu, dan anak tersebut berlari kearah orang tuanya sambil berkata "mama aku jatuh tersandung batu …" dan orang tunya berkata " Diam sayang batunya nakal nanti batunya mama marahi…" kenapa harus menyalahi batu…&lt;br /&gt;Suatu ketika di lingkungan kantor "Kenapa kamu tak dapat mencapai target penjualan…", Tanya seorang manager ke pada supervisornya "Iya saya mempunyai tem yang kurang solid", kenapa harus menyalahkan teamnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika suatu saat saya mempunyai janji dengan kerabat untuk bertemu di satu tempat pada pukul 9.00, ternyata kerabat saya datang pada pukul 10.30, dan saya bertanya "kenapa telat….", " tadi supir taksinya jalanya pelan, dan jalanan macet" saudara saya berkata, kenapa menyalahkan supir taksi dan jalanan macet….&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Begitu mudahnya kita melempar kesalahan kepada orang lain, disaat kita terdesak.. dari beberapa kasus yang saya tulis diatas. Dari kasus pertama saat kecil kita dibimbing untuk menyalahkan batu ketika kita tersandung dan jatuh… saat target penjualan tidak teracapai seorang supervisor dengan mudah melemparkan kesalahan kepada teamnya, kenapa tidak mengaku bahwa dia salah… karena mungkin salah strategy, atau malah dia tidak melakukan apa-apa hanya menyerahkan ke teamnya… dan saat kerabat saya datang terlambat dia menyalahkan supir taksi… apakah benar… kenapa kerabat saya tidak berjalan lebih awal atau memilih jalan alternative untuk tidak terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyalahkan orang lain sudah dikenal dengan sangat baik oleh umat manusia, dan kemasannya bisa nampak begitu indah sehingga pelakunya sendiri kadang tidak sadar telah melakukannya. Ketika dihadapkan pada sebuah masalah, maka solusi termudah yang bisa ditemukan biasanya adalah menimpakan semua tanggung jawab pada orang lain. Pada sebagian orang, kebiasaan ini sudah menjadi sebuah refleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena sosial ini sangat menyedihkan sedang terjadi pada masyarakat kita dimana masing-masing ingin mencari selamat, dan melemparkan kesalahan kepada orang lain dan tidak mau bertanggung jawab atas kesalahan yang dibuatnya. coba deh kita periksa diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain,kita tidak akan dihormati jika kita sentiasa bersikap selalu menyalahkan orang lain/menimpakan permasalah ke orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kah, sikap melemparkan kesalahan tersebut berawal dari saat kita kecil di mana kita terbiasa menyalahkan dan melemparkan masalah kepada orang lain agar kita aman. Dengan melemparkan kesalahan kepada orang lain tidak kah kita merasa salah dan tidak nyaman. Dan saat kita melemparkan kesalahan orang lain kita sebenarnya sedang membiasakan diri untuk berbohong kepada diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mencoba untuk melemparkan kesalahan kita kepada orang lain adalah suatu candu dan akan menghambat perkembangan jiwa kita… jika kita berhasil melemparkan suatu masalah kepada orang lain kita dan kita merasa aman dan berhasil, maka kita akan berusaha mengulang melemparkan setiap kesalahan kita kepada orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kita tidak bersikap jujur bahwa kesalahan yang kita buat tersebut adalah salah kita dan kita bertanggung jawab atas resiko yang ada. Bagaimana perasaan anda jika orang lain melemparkan suatu masalah kepada kita…. Marah kesal dan kecewa bukan…. Jadi kenapa kita harus melempar kesalahan kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang wajar jika manusia tidak ingin dipersalahkan. Tidak ada orang yang merasa nyaman mengakui kesalahan atau kekurangan dirinya. Akan tetapi, justru sikap inilah yang menjadi batas yang tegas antara manusia yang sukses (atau bakal sukses) dengan mereka yang sudah takdirnya menjadi buih di lautan luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menerima kesalahan, kita seharusnya senang karena kita mendapat pelajaran berharga dan tidak mengulangi kesalahan tersebut. Dan kita punn sangat marah jika kita terkena masalah dari lemparan orang lain. kita harus melatih jujur dan menumbuhkan jiwa sportif kepada diri kita sendiri. dengan mengakui kesalahan kita maka orang lain dan lingkungan akan sangat menghargai diri kita. Tidak percaya coba buktikan bersifat sportif, dan anda akan mendapat tanggapan yang baik… temukan jawabanya, dan jika saya salah anda dapat menghungi saya di &lt;a rel="nofollow" ymailto="mailto:erwinarianto@gmail.com" target="_blank" href="mailto:erwinarianto@gmail.com"&gt;erwinarianto@ gmail.com&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda menghadapi masalah, merasa sedih, khawatir, marah, kecewa, atau kesal, maka cobalah berbincang-bincang dengan dirimu sendiri. Pertanyakanlah segala hal, dan bersikap jujurlah pada diri sendiri. Sebenarnya, masalah terbesar dalam hidup manusia bukanlah musuh yang kejam, melainkan ego pribadi. Karena ego, kita terbiasa menyalahkan orang lain dan larut dalam ratapan. Padahal, yang dibutuhkan adalah solusi, bukan melankoli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu indah jika kita tidak saling menyalahkan dan bersikap jujur dan sportif kepada orang lain, seperti kita ingin diperlakukan oleh orang lain. Dengan ini jika berkenan saya ingin mengajak sahabat-sahabatku untuk tidak melemparkan kesalahan kepada orang lain, dan berjiwa sportif dan mengakui kesalahan kita jika kita salah, seperti seorang ksatria, dan wujud iman kita. serta berani mengakui kesalahan adalah sebuah langkah awal untuk menuju kesuksesan kita. dan dengan menyalahkan orang lain kita melakukan sebuah penarikan dalam bank emosi kita dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berbahagialah orang yang dapat menyalahkan dirinya sendiri sebelum menyalahkan orang lain"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" menjadi jujur seperti seorang ksatria yang sportif dan berwibawa, atau mencoba tidak jujur (bohong) seperti seorang pencuri yang terhina dan tidak berharga"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Walaupun menanam kejujuran terasa pahit, tetapi kejujuran akan menghasilkan buah yang manis. Jadi mari kita jujur, walau kejujuran itu pahit"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Erwin Arianto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/611511756457839120-3791692429531458733?l=agustaufik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agustaufik.blogspot.com/feeds/3791692429531458733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=611511756457839120&amp;postID=3791692429531458733' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default/3791692429531458733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default/3791692429531458733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agustaufik.blogspot.com/2008/09/menyalahkan-orang-lain.html' title='Menyalahkan Orang Lain'/><author><name>Agus Taufik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02433125303915927724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_Y8R-_aBWstk/R1bE88FG73I/AAAAAAAAAAM/tMmLFweJa-Y/S220/DSCF7572.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-611511756457839120.post-9174497224026072004</id><published>2008-06-21T07:46:00.000-07:00</published><updated>2008-06-21T07:47:51.098-07:00</updated><title type='text'>Cerita Petani</title><content type='html'>Alkisah jaman dahulu kala ada seorang petani miskin yang hidup dengan seorang putera nya. Mereka hanya memiliki seekor kuda kurus yang sehari-hari membantu mereka menggarap ladang mereka yang tidak seberapa. Pada suatu hari, kuda pak tani satu-satu nya tersebut menghilang, lari begitu saja dari kandang menuju hutan.&lt;br /&gt;Orang-orang di kampung yang mendengar berita itu berkata: "Wahai Pak tani, sungguh malang nasibmu!".Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"&lt;br /&gt;Keesokan hari nya, ternyata kuda pak Tani kembali ke kandangnya, dengan membawa 100 kuda liar dari hutan. Segera ladang pak Tani yang tidak seberapa luas dipenuhi oleh 100 ekor kuda jantan yang gagah perkasa. Orang-orang dari kampung berbondong datang dan segera mengerumuni "koleksi" kuda-kuda yang berharga mahal tersebut dengan kagum. Pedagang-pedagang kuda segera menawar kuda-kuda tersebut dengan harga tinggi, untuk dijinakkan dan dijual. Pak Tani pun menerima uang dalam jumlah banyak, dan hanya menyisakan 1 kuda liar untuk berkebun membantu kuda tua nya.&lt;br /&gt;Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu berkata: "Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!".Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"&lt;br /&gt;Keesokan hari nya, anak pak Tani pun dengan penuh semangat berusaha menjinakan kuda baru nya. Namun, ternyata kuda tersebut terlalu kuat, sehingga pemuda itu jatuh dan patah kaki nya.&lt;br /&gt;Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu berkata: "Wahai Pak tani, sungguh malang nasibmu!".Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"&lt;br /&gt;Pemuda itupun terbaring dengan kaki terbalut untuk menyembuhkan patah kakinya. Perlu waktu lama hingga tulangnya yang patah akan baik kembali. Keesokan harinya, datanglah Panglima Perang Raja ke desa itu. Dan memerintahkan seluruh pemuda untuk bergabung menjadi pasukan raja untuk bertempur melawan musuh di tempat yang jauh. Seluruh pemuda pun wajib bergabung, kecuali yang sakit dan cacat. Anak pak Tani pun tidak harus berperang karena dia cacat.&lt;br /&gt;Orang-orang di kampung berurai air mata melepas putra-putra nya bertempur, dan berkata: "Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!".Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"&lt;br /&gt;Kisah di atas, mengungkapkan suatu sikap yang sering disebut: non-judgement. Sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan untuk memahami rangkaian kejadian yang diskenariokan Sang Maha Sutradara. Apa-apa yang kita sebut hari ini sebagai "kesialan", barangkali di masa depan baru ketahuan adalah jalan menuju "keberuntungan" . Maka orang-orang seperti Pak Tani di atas, berhenti untuk "menghakimi" kejadian dengan label-label "beruntung", "sial", dan sebagainya. &lt;br /&gt;Karena, siapalah kita ini menghakimi kejadian yang kita sunguh tidak tahu bagaimana hasil akhirnya nanti. Seorang karyawan yang dipecat perusahaan nya, bisa jadi bukan suatu "kesialan", manakala ternyata status job-less nya telah memecut dan membuka jalan bagi diri nya untuk menjadi   boss  besar di perusahaan lain.&lt;br /&gt;Maka berhentilah menghakimi apa –apa yang terjadi hari ini, kejadian –kejadian  PHK , Paket Hengkang , Mutasi tugas  dan  apapun namanya   . . . .yang  selama  ini  kita  sebut  dengan "kesialan" , "musibah " dll ,  karena .. sungguh kita tidak tahu apa  yang terjadi  kemudian dibalik peristiwa itu (di).&lt;br /&gt;"Hadapi badai kehidupan sebesar apapun. Tuhan takkan lupa akan kemampuan kita. Kapal hebat diciptakan bukan untuk dilabuhkan di dermaga saja."&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Sumber milis: Cetivasi&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/611511756457839120-9174497224026072004?l=agustaufik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agustaufik.blogspot.com/feeds/9174497224026072004/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=611511756457839120&amp;postID=9174497224026072004' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default/9174497224026072004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default/9174497224026072004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agustaufik.blogspot.com/2008/06/cerita-petani.html' title='Cerita Petani'/><author><name>Agus Taufik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02433125303915927724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_Y8R-_aBWstk/R1bE88FG73I/AAAAAAAAAAM/tMmLFweJa-Y/S220/DSCF7572.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-611511756457839120.post-120256764568322074</id><published>2008-06-07T22:50:00.000-07:00</published><updated>2008-06-07T22:53:55.778-07:00</updated><title type='text'>Nasi Sudah Menjadi Bubur</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#3333ff;"&gt;Saat keterlanjuran sudah berlalu, kita sering mengatakan “Nasi sudah menjadi bubur”. Betulkah ungkapan ini? Atau sekedar mencari pembenaran untuk tidak memperbaiki yang sudah ada? Insya Allah setelah membaca cerita berikut, kita akan memiliki pandangan berbeda terhadap suatu keterlanjuran.&lt;br /&gt;Seorang mahasiswa kuliahnya tidak serius. Kadang masuk kuliah kadang tidak, tugas terbengkalai, SKS yang harus dikejar masih banyak, dan jarang sekali belajar. Begitu ditanya ternyata dia merasa terjebak masuk ke jurusan yang dipilihnya karena dia hanya ikut-ikutan saja. Teman-temannya masuk jurusan tersebut, dia pun ikut.&lt;br /&gt;“Mengapa kamu tidak pindah saja?” tanya temannya, Budi.&lt;br /&gt;“Ah, biarlah, nasi sudah menjadi bubur” jawabnya, tidak peduli.&lt;br /&gt;“Apakah kamu akan tetap seperti ini?”&lt;br /&gt;“Mau gimana lagi, saya bilang nasi sudah jadi bubur, tidak bisa diperbaiki lagi.” jawabnya berargumen.&lt;br /&gt;“Kalau kamu pindah kejurusan yang kamu sukai, kan kamu akan lebih enjoy.” kata temannya.&lt;br /&gt;“Saya ini sudah tua, masa harus kuliah dari awal lagi. Saya terlambat menyadari kalau saya salah masuk jurusan.” jelasnya sambil merebahkan diri di kasur dan mengambil remote control TV-nya.&lt;br /&gt;“Memang tidak ada yang bisa kamu lakukan lagi?” selidik temannya.&lt;br /&gt;“Tidak, saya sudah katakan berulang-ulang nasi sudah jadi bubur.”&lt;br /&gt;Temannya pun diam sejenak, dia bingung melihat temannya yang sudah tidak semangat lagi. Kemudian dia teringat pada temannya yang memiliki nasib yang sama, salah memilih jurusan. Dia pun pulang ke rumahnya kemudian menelpon temannya tersebut.&lt;br /&gt;“Jaka, perasaan kamu pernah cerita sama saya, kalau kamu salah memilih jurusan?” tanya Budi kepada Jaka.&lt;br /&gt;“Memang saya salah memilih jurusan, memangnya kenapa?” jawab Jaka.&lt;br /&gt;“Yang saya heran, kenapa kamu tetap semangat kuliah, sedangkan teman saya malah malas dan tidak serius kuliahnya.”&lt;br /&gt;“Yah nggak tahu yah, saya juga dulu sempat seperti itu. Tapi sekarang sudah tidak lagi.” jelas Jaka.&lt;br /&gt;“Apa sich resepnya?”&lt;br /&gt;“Pertama saya merelakan diri masuk jurusan ini. Mungkin ini yang terbaik menurut Allah. Jadi saya terima saja.”&lt;br /&gt;“Terus?” kata Budi bersemangat&lt;br /&gt;“Yang kedua, saya mencari cara menggabungkan ilmu yang saya miliki dijurusan ini, dengan hobi saya. Ternyata saya menjadi enjoy saja. Memang, saya terlanjur memilih jurusan ini, kata orang, nasi sudah jadi bubur. Tetapi kalau saya, nasi sudah menjadi bubur ayam spesial yang enak dan lebih mahal harganya ketimbang nasi.”&lt;br /&gt;“Oh gitu….”&lt;br /&gt;“Yah, kalau kita menyesali tidak ada manfaatnya. Kalau kita berusaha mengubah bubur jadi nasi, itu tidak mungkin. Satu-satunya cara ialah membuat bubur tersebut menjadi lebih nikmat, saya tambahkan ayam, ampela, telor, dan bumbu. Rasanya enak dan lebih mahal” jelas Jaka sambil tersenyum lebar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/611511756457839120-120256764568322074?l=agustaufik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agustaufik.blogspot.com/feeds/120256764568322074/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=611511756457839120&amp;postID=120256764568322074' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default/120256764568322074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default/120256764568322074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agustaufik.blogspot.com/2008/06/nasi-sudah-menjadi-bubur.html' title='Nasi Sudah Menjadi Bubur'/><author><name>Agus Taufik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02433125303915927724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_Y8R-_aBWstk/R1bE88FG73I/AAAAAAAAAAM/tMmLFweJa-Y/S220/DSCF7572.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-611511756457839120.post-7679026565176133148</id><published>2008-06-04T22:38:00.000-07:00</published><updated>2008-06-04T22:45:53.802-07:00</updated><title type='text'>100 Tahun kebangkitan Nasional 1908-2008</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bangkit itu SUSAH&lt;br /&gt;Susah melihat orang susah&lt;br /&gt;Senang melihat orang senang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkit itu TAKUT&lt;br /&gt;Takut Korupsi&lt;br /&gt;Takut makan yang bukan haknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkit itu MENCURI&lt;br /&gt;Mencuri perhatian dunia dengan prestasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkit itu MARAH&lt;br /&gt;Marah bila martabat bangsa dilecehkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkit itu MALU&lt;br /&gt;Malu jadi benalu&lt;br /&gt;Malu karena minta melulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkit itu TIDAK ADA&lt;br /&gt;Tidak ada kata menyerah&lt;br /&gt;Tidak ada kata putus asa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkit itu AKU&lt;br /&gt;Aku untuk Indonesiaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Deddy Mizwar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/611511756457839120-7679026565176133148?l=agustaufik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agustaufik.blogspot.com/feeds/7679026565176133148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=611511756457839120&amp;postID=7679026565176133148' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default/7679026565176133148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default/7679026565176133148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agustaufik.blogspot.com/2008/06/100-tahun-kebangkitan-nasional-1908.html' title='100 Tahun kebangkitan Nasional 1908-2008'/><author><name>Agus Taufik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02433125303915927724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_Y8R-_aBWstk/R1bE88FG73I/AAAAAAAAAAM/tMmLFweJa-Y/S220/DSCF7572.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-611511756457839120.post-8738469889795800393</id><published>2008-05-09T01:35:00.000-07:00</published><updated>2008-05-09T01:37:07.545-07:00</updated><title type='text'>Catatan Harian Seorang Pramugari</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: black;"&gt;Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal &lt;st1:numconv6p0 val="7" sch="1" st="on"&gt;7&lt;/st1:NumConv6p0&gt; Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari &lt;st2:city st="on"&gt;&lt;span class="yshortcuts"&gt;Shanghai&lt;/span&gt;&lt;/st2:City&gt; menuju &lt;st2:place st="on"&gt;Peking&lt;/st2:place&gt; , penumpang sangat penuh pada hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:city st="on"&gt;gaya&lt;/st2:City&gt;&lt;/st2:place&gt; desanya, pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke &lt;st1:numconv6p0 val="20" sch="1" st="on"&gt;20&lt;/st1:NumConv6p0&gt;, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan  kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di &lt;st2:city st="on"&gt;kota&lt;/st2:City&gt; dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat tiga di &lt;st2:place st="on"&gt;Peking&lt;/st2:place&gt; . anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami di  desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: navy;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: black;"&gt;Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama &lt;st1:numconv6p0 val="5" sch="1" st="on"&gt;5&lt;/st1:NumConv6p0&gt; tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur &lt;st1:numconv6p0 val="70" sch="1" st="on"&gt;70&lt;/st1:NumConv6p0&gt; tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;(Sumber Dajiyuan)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: navy;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/611511756457839120-8738469889795800393?l=agustaufik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agustaufik.blogspot.com/feeds/8738469889795800393/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=611511756457839120&amp;postID=8738469889795800393' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default/8738469889795800393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default/8738469889795800393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agustaufik.blogspot.com/2008/05/catatan-harian-seorang-pramugari.html' title='Catatan Harian Seorang Pramugari'/><author><name>Agus Taufik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02433125303915927724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_Y8R-_aBWstk/R1bE88FG73I/AAAAAAAAAAM/tMmLFweJa-Y/S220/DSCF7572.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-611511756457839120.post-1403302140203788682</id><published>2008-03-30T08:19:00.000-07:00</published><updated>2008-03-30T08:20:36.568-07:00</updated><title type='text'>Doa Sang Jendral</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Pada masa perang dunia kedua,  tepatnya bulan Mei Tahun 1952, seorang jenderal kenamaan, &lt;strong&gt;Douglas Mac  Arthur&lt;/strong&gt;, menullis sebuah puisi untuk putra tercintanya yang saat itu  baru berusia 14 tahun. Puisi tersebut mencerminkan harapan seorang ayah kepada  anaknya. Ia memberi sang anak puisi indah yang berjudul "Doa untuk Putraku"  Inilah isi puisi tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Doa untuk  Putraku&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tuhanku...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuklah puteraku menjadi manusia  yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya. Dan, berani menghadapi dirinya  sendiri saat dalam ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia yang bangga dan tabah dalam  kekalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap Jujur dan rendah hati dalam  kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan  cita-citanya dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Putera yang sadar bahwa mengenal Engkau dan dirinya sendiri  adalah landasan segala ilmu  pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tuhanku...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mohon,  janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak. Namun, tuntunlah dia di  jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan  puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar&lt;br /&gt;untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajarilah dia berhati  tulus dan bercita-cita tinggi, sanggup memimpin dirinya sendiri, sebelum  mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikanlah hamba  seorang putra yang mengerti makna tawa ceria tanpa melupakan makna tangis  duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putera yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun tak pernah melupakan masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, setelah semua  menjadi miliknya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikan dia cukup rasa humor sehingga ia dapat  bersikap sungguh-sungguh&lt;br /&gt;namun tetap mampu menikmati  hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tuhanku...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berilah ia  kerendahan hati...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang  hakiki...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang  sempurna...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud, hamba, ayahnya,  dengan berani berkata "hidupku tidaklah  sia-sia"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Pembaca yang budiman,&lt;br /&gt;Puisi yang ditulis  oleh Jenderal Douglas MacArthur tersebut merupakan sebuah puisi yang luar biasa.  Puisi itu adalah sebuah cermin seorang ayah yang mengharapkan anaknya kelak  mampu menjadi manusia yang ber-Tuhan sekaligus mampu menjadi manusia yang tegar,  tidak cengeng, tidak manja, dan bertanggung jawab atas kehidupannya  sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti contoh sepenggal puisi di atas yg berbunyi: "Janganlah  pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak, tuntunlah dia di jalan yang penuh  hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan." Puisi ini menunjukkan bahwa sang  jenderal sadar tidak ada jalan yang rata untuk kehidupan sukses yang  berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kata mutiara yang tidak bosan saya ucapkan: "Kalau  Anda lunak pada diri sendiri, kehidupan akan keras terhadap Anda. Namun, kalau  Anda keras pada diri sendiri, maka kehidupan akan lunak terhadap  Anda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, jangan kompromi atau lunak pada sikap kita yang  destruktif, merusak, dan cenderung melemahkan. Maka, senantiasalah belajar  bersikap tegas dan keras dalam membangun karakter yang konstruktif, membangun,  demi menciptakan kehidupan sukses yang gemilang, hidup penuh  kebahagiaan! !&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat berjuang!!! &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/611511756457839120-1403302140203788682?l=agustaufik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agustaufik.blogspot.com/feeds/1403302140203788682/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=611511756457839120&amp;postID=1403302140203788682' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default/1403302140203788682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default/1403302140203788682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agustaufik.blogspot.com/2008/03/doa-sang-jendral.html' title='Doa Sang Jendral'/><author><name>Agus Taufik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02433125303915927724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_Y8R-_aBWstk/R1bE88FG73I/AAAAAAAAAAM/tMmLFweJa-Y/S220/DSCF7572.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-611511756457839120.post-1561780704459104510</id><published>2007-12-28T05:29:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T06:13:04.995-08:00</updated><title type='text'>Gontor Dilanda Banjir</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Y8R-_aBWstk/R3T6jasIb5I/AAAAAAAAACY/0fbmx73xKPU/s1600-h/banjir.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5149015760358109074" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" height="271" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Y8R-_aBWstk/R3T6jasIb5I/AAAAAAAAACY/0fbmx73xKPU/s320/banjir.jpg" width="332" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Darussalam – "Wah, ternyata bukan hanya Jakarta saja yang bisa banjir, Gontor pun tak luput dari dampak pemanasan global." Ungkap salah seorang staf KMI yang mulai harap-harap cemas banjir malam itu naik sampai ke masjid. Memang musibah tidak dapat diperkirakan. Hujan deras yang mengguyur bumi Darussalam sejak sore hari hingga malam itu (16/12/2007) membuat aliran sungai Malo meluap sampai setinggi paha di tempat terendah. Hujan tersebut juga sempat menunda kegiatan Gladi Kotor Folksong antar kelas yang sedianya akan tampil ketika Idhul Adha nanti. Para santri juga terpaksa menunaikan shalat maghrib di asrama masing-masing dikarenakan hujan masih terlalu lebat. Meskipun hujan agak reda sesaat setelah maghrib, namun langit kembali mencurahkan 'rizki' ketika Muhadhoroh.Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, banjir tersebut mulanya datang dari arah gedung Satelit meluas ke arah Sudan dan Komplek Solihin. Tepat pada pukul 21.30 WIB atau tepat setelah para santri keluar dari kelas Muhadhoroh, banjir mulai datang dan menggenangi jalan Baitul Anshor dan Sudan. Selain itu, banjir juga hanya tampak menggenangi halaman gedung Alighar. Sekitar pukul 22.00 WIB ternyata air dan lumpur mulai meninggi dan mengharuskan para santri yang tinggal di asrama Sholihin dan Saudi lantai satu untuk mengungsi ke masjid. Menurut beberapa asatidz – yang sebelumnya juga pernah merasakan banjir di Gontor – banjir kali ini adalah yang terbesar dalam sejarah Pondok Modern Gontor. Banjir juga pernah terjadi di Gontor pada tahun 2002 tepat pada hari perpulangan, meski volumenya lebih kecil dari banjir juga terjadi pada malam 1 Muharram 1425 H. Banjir kali ini volumenya sedikit lebih besar. Halaman kantor IKPM dan Darul hijroh yang bertempat agak tinggi dan biasanya tidak pernah tersentuh banjir, malam itu tergenang sampai betis. Hanya halaman gedung Indonesia saja yang selamat dari musibah ini. Batas air hanya sampai gedung 17 Agustus dan tidak menyentuh gedung Indonesia, meskipun lapangan hijau di belakangnya juga terendam air. Hari ini (17/12/2007), KMI meliburkan seluruh santri sampai jam ke-2 untuk mengadakan tandzif 'am, membersihkan seluruh Darussalam dari lumpur bekas banjir. Meski musibah tidak dapat diperkirakan, akan tetapi para santri terlihat 'enjoy' saja. Dengan hati penuh keikhlasan, saling bahu-membahu membersihkan Pondok tercinta. Banjir boleh datang, namun hati tetap senang. (sho) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/611511756457839120-1561780704459104510?l=agustaufik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agustaufik.blogspot.com/feeds/1561780704459104510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=611511756457839120&amp;postID=1561780704459104510' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default/1561780704459104510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default/1561780704459104510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agustaufik.blogspot.com/2007/12/gontor-dilanda-banjir.html' title='Gontor Dilanda Banjir'/><author><name>Agus Taufik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02433125303915927724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_Y8R-_aBWstk/R1bE88FG73I/AAAAAAAAAAM/tMmLFweJa-Y/S220/DSCF7572.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Y8R-_aBWstk/R3T6jasIb5I/AAAAAAAAACY/0fbmx73xKPU/s72-c/banjir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-611511756457839120.post-2897497033899608141</id><published>2007-12-12T20:29:00.000-08:00</published><updated>2007-12-12T20:31:08.361-08:00</updated><title type='text'>Periuk Beranak</title><content type='html'>Nasrudin meminjam periuk kepada tetangganya. Seminggu kemudian, ia mengembalikannya ‎dengan menyertakan juga periuk kecil di sampingnya. Tetangganya heran dan bertanya mengenai ‎periuk kecil itu.‎&lt;br /&gt;‎"Periukmu sedang hamil waktu kupinjam. Dua hari kemudian ia melahirkan bayinya dengan ‎selamat."‎&lt;br /&gt;Tetangganya itu menerimanya dengan senang. Nasrudin pun pulang.‎&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, Nasrudin meminjam kembali periuk itu. Namun kali ini ia pura-pura lupa ‎mengembalikannya. Sang tetangga mulai gusar, dan ia pun datang ke rumah Nasrudin,‎&lt;br /&gt;Sambil terisak-isak, Nasrudin menyambut tamunya, "Oh, sungguh sebuah malapetaka. Takdir telah ‎menentukan bahwa periukmu meninggal di rumahku. Dan sekarang telah kumakamkan."‎&lt;br /&gt;Sang tetangga menjadi marah, "Ayo kembalikan periukku. Jangan belagak bodoh. Mana ada periuk ‎bisa meninggal dunia!"‎&lt;br /&gt;‎"Tapi periuk yang bisa beranak, tentu bisa pula meninggal dunia," kata Nasrudin, sambil ‎menghentikan isaknya.‎&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/611511756457839120-2897497033899608141?l=agustaufik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agustaufik.blogspot.com/feeds/2897497033899608141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=611511756457839120&amp;postID=2897497033899608141' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default/2897497033899608141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default/2897497033899608141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agustaufik.blogspot.com/2007/12/periuk-beranak.html' title='Periuk Beranak'/><author><name>Agus Taufik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02433125303915927724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_Y8R-_aBWstk/R1bE88FG73I/AAAAAAAAAAM/tMmLFweJa-Y/S220/DSCF7572.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-611511756457839120.post-576739783228773650</id><published>2007-12-05T08:32:00.001-08:00</published><updated>2007-12-05T08:48:37.548-08:00</updated><title type='text'>SEJARAH PONDOK PESANTREN DAAR EL-QOLAM</title><content type='html'>&lt;table style="width: 677px; height: 24px; font-family: arial;" class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;               &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;        &lt;td class="buttonheading" align="right" width="100%"&gt;     &lt;a href="http://daarelqolam.net/index2.php?option=com_content&amp;amp;do_pdf=1&amp;amp;id=23" target="_blank" onclick="window.open('http://daarelqolam.net/index2.php?option=com_content&amp;do_pdf=1&amp;id=23','win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no'); return false;" title="PDF"&gt;      &lt;img src="http://daarelqolam.net/templates/daarelqolam/images/pdf_button.png" alt="PDF" name="PDF" align="middle" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;    &lt;/td&gt;        &lt;td class="buttonheading" align="right" width="100%"&gt;      &lt;a href="http://daarelqolam.net/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=23&amp;amp;pop=1&amp;amp;page=0&amp;amp;Itemid=125" target="_blank" onclick="window.open('http://daarelqolam.net/index2.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=23&amp;pop=1&amp;page=0&amp;Itemid=125','win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no'); return false;" title="Print"&gt;       &lt;img src="http://daarelqolam.net/templates/daarelqolam/images/printButton.png" alt="Print" name="Print" align="middle" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;     &lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;    &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;       &lt;table style="font-family: arial;" class="contentpaneopen"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td colspan="2" valign="top"&gt;     &lt;p&gt;Daar el-Qolam adalah sebuah perjalanan sejarah. &lt;span&gt;Sejarah yang berbalut suka dan duka. Pergulatan panjanganya dalam dunia pendidikan menekankan kepada pemeliharaan nilai-nilai tradisional (traditional values), kearifan lokal (local wisdom) dan responsif terhadap nilai-nilai modernisasi (modernity values). Usaha itu kami lakukan dalam rangka menyiapkan generasi Islam agar dapat menantang dan menaklukan zamannya. Mereka yang menimba ilmu di sini dibekali dengan iman, akhlak dan ilmu pengetahuan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div&gt; &lt;/div&gt; &lt;p&gt;&lt;span&gt;Sejarah Daar el-qolam diawali dengan semangat untuk membangun peradaban. Modal terbesarnya adalah niat yang kuat untuk memberikan pengabdian. Semangat dan niat itulah yang bersatu padu melawan berbagai keterbatasan yang mengelilingnya saat itu. Betapa tidak ! Sebelum berdirinya bangunan-bangunan berbeton, Daar el-Qolam diawali dengan sebuah dapur tua, bilik bambu dan tempelan papan yang menutupi ruangan. Ya. Niat dan semangat itulah yang menjadi kata kunci yang membuat Daar el-Qolam sukses melawan keterbatasannya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span&gt;Berlokasi di Desa Pasir Gintung, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang Propinsi Banten Indonesia. &lt;strong&gt;DAAR EL QOLAM&lt;/strong&gt; didirikan pada tanggal 20 Januari tahun 1968 M/27 Ramadhan 1318 H oleh Drs. K. H. Ahmad Rifa’i Arief (&lt;em&gt;lihat profil&lt;/em&gt;) atas gagasan ayahnya, H. Qasad Mansyur, yang saat itu mengelola Madrasah Ibtidaiyah Masyariqul Anwar (MMA). Maksud ayahnya adalah agar kelak alumni MMA dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div&gt; &lt;/div&gt; &lt;p&gt;&lt;span&gt;Dalam catatan sejarahnya, proses pendidikan dan pengajaran di &lt;strong&gt;DAAR EL QOLAM&lt;/strong&gt; diikuti 22 orang santri yang datang dari kalangan keluarga, karib kerabat serta masyarakat sekitar pesantren. Sistem yang diadopsinya adalah pendidikan Islam modern yang mengabaikan dikotomi ilmu pengetahuan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span&gt;Sebab itulah, pesantren ini tidak hanya menyuguhkan kajian-kajian keislaman (&lt;em&gt;Islamic Studies&lt;/em&gt;), tapi juga mengajarkan ilmu pengetahuan umum, keterampilan (&lt;em&gt;skill&lt;/em&gt;), disiplin beribadah dan disiplin hidup. &lt;/span&gt;Sehingga dalam perkembangannya Daar el-Qolam bisa diartikan sebagai balai pendidikan pesantren yang berbasis sekolah (&lt;em&gt;Pesantren based school&lt;/em&gt;) atau sekolah yang berbasis pesantren (&lt;em&gt;School based pesantren&lt;/em&gt;).&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kini &lt;strong&gt;DAAR EL QOLAM&lt;/strong&gt; telah menjadi sebuah lembaga pendidikan modern dengan format pesantren besar yang melibatkan 241 orang guru dan 4.167 santri yang berasal dari perbagai penjuru Indonesia. Hal tersebut menggambarkan corak multikultural yang terasa sangat kental di tempat ini (&lt;em&gt;learning how live together&lt;/em&gt;) dan belajar sambil berbuat (&lt;em&gt;learning by doing&lt;/em&gt;) menjadi keunggulan kami.&lt;/p&gt;     &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" class="article_seperator"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/611511756457839120-576739783228773650?l=agustaufik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agustaufik.blogspot.com/feeds/576739783228773650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=611511756457839120&amp;postID=576739783228773650' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default/576739783228773650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/611511756457839120/posts/default/576739783228773650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agustaufik.blogspot.com/2007/12/sejarah-pondok-pesantren-daar-el-qolam.html' title='SEJARAH PONDOK PESANTREN DAAR EL-QOLAM'/><author><name>Agus Taufik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02433125303915927724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_Y8R-_aBWstk/R1bE88FG73I/AAAAAAAAAAM/tMmLFweJa-Y/S220/DSCF7572.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry></feed>
